Percakapan Nasionalisme dan Prinsip Kerja Sama


Percakapan Nasionalisme dan Prinsip Kerja Sama

"Jangan saling menghujat karena kita bersaudara, jangan saling jelekkan karena kita bersaudara, jangan saling fitnah karena kita bersaudara, jangan saling menolak karena kita bersaudara, jangan saling mendemo, habis energi kita untuk hal-hal seperti itu, karena kita bersaudara," Presiden Jokowi

 

Presiden Joko Widodo menyatakan, fenomena perkembangan media sosial menambah beban pemerintah. Berbeda dengan media arus utama yang dianggap bisa diajak bekerja sama, media sosial tak bisa diperlakukan sama. Tak ada yang bisa mengontrol penggunaan media sosial. Sebab, banyak warga yang menggunakan media sosial justru untuk menebarkan ujaran kebencian, isinya saling menghujat, saling mengejek, saling memaki, saling menjelekkan, (Antara)

Kita ambil makna positif pernyataan Presiden Jokowi ini, sambil kita mengarahkan percakapan antar anak bangsa ke percakapan yang bernuansa nasionalisme atau kebangsaan, percakapan yang menimbulkan rasa cinta tanah air, percakapan yang membuat kita bahagia, percakapan yang membuat silaturrahmi tetap terjaga. Bukan hanya percakapan atau menulis status atau menyebarkan berita hanya sekedar untuk meneguhkan eksistensi atau identitas belaka.

Memang, interaksi antarmanusia mengalami pergeseran dengan munculnya media baru, media sosial. Media sosial adalah sebuah medium yang ditujukan untuk berbagi antara sesama individu dalam rangka untuk mencapai sebuah kualitas kehidupan yang lebih baik. Media sosial mengacu pada komunitas online yang partisipatif, ada percakapan, dan mencair. Komunitas ini memungkinkan anggota untuk menghasilkan, menerbitkan, mengontrol, mengkritik, meningkatkan, dan berinteraksi dengan konten yang bersifat online (Tuten, 2008).

Fenomena penggunaan media sosial yang bebas, tak terkontrol memberi kesempatan individu untuk saling menyerang, menuduh, melakukan stereotypes, bahkan mengganggap etnis dan agamanyalah yang paling unggul dibandingkan dengan lainnya. Kondisi ini menunjukkan bagaimana komunikasi antarpribadi (interpersonal) yang tujuannya adalah berkawan menjadi tergeser menuju hubungan yang sifatnya adalah I-you menurut Martin Buber.

Itulah ruang virtual (cyberspace), yaitu ruang aktivitas manusia tanpa batas. Terjadi peralihan tempat aktivitas manusia yang awalnya dibatasi oleh batas geografis maupun batas keberadaan manusia secara langsung diganti dengan ketiadaan batas secara geografis maupun keberadaan manusia melalui medium. Sehingga seringkali individu tidak mengetahui siapa lawan bicaranya, sehingga konsep ruang virtual disebut juga 'mediated communication', setiap situasi dimana keberadaan teknologi adalah sebagai sebuah medium yang menginisiasi interaksi tatap muka. (Buber)

Sering terjadi, sedang menggunakan media sosial, orang bisa mengatakan atau melakukan tindakan yang mungkin tidak akan mereka lakukan dalam komunikasi tatap muka. Mereka lebih bebas, merasa tidak terkekang, dan dapat mengekspresikan diri lebih terbuka (Suller).

Akibatnya, orang bisa menjadi lebih mudah mencurahkan isi hati, menilai orang lain yang dalam dunia nyata sulit mereka ungkapkan didunia maya. Begitu juga, kita juga sering melihat digunakannya secara terbuka kata-kata kasar, kemarahan, kebencian, bahkan ancaman yang sulit mereka keluarkan di dunia nyata.

Akibatnya juga terjadi  kecenderungan orang untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi, mengkonfirmasi, atau meneguhkan pandangan yang dimiliki sebelumnya. Hoax biasanya dianggap sebagai kebenaran jika sesuai dengan pandangan si pengguna medsos.

Kita juga cenderung tanpa konfirmasi membagi (share) atau menyiarkan informasi yang diterimanya tersebut. Akibatnya informasi yang belum tentu benar tersebut menjadi tersebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai saluran media sosial.

Gun Gun dan Irwa (2012), mengutip Wright dan Hinson (2009) menyimpulkan tentang dampak kehadiran media sosial: a) menyediakan peluang untuk berkomunikasi lebih banyak, dan memberi wadah untuk mengekspresikan ide, informasi, dan opini; b) membuka kesempatan baru untuk berkomunikasi langsung dengan khalayak walaupun dapat menimbulkan risiko seperti berkembangnya adanya informasi negative. Komunikasi menjadi lebih personal dan dapat berlangsung tanpa perantara; c) meningkatkan komunikasi dan informasi secara tepat untuk berbagai isu.

Oleh karena itu, sebelum kita melakukan percakapan baik didunia nyata maupu didunia maya melalui media sosial, alangkah baiknya kita mempertimbangkan sebuah prinsip kerja sama yang ditawarkan oleh para pakar pragmatik, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana menggunakan bahasa untuk komunikasi (Yule).

Prinsip Kerja Sama Grice ada empat yaitu: Pertama, Maksim Kuantitas (the maxim of quantity): Berikan jumlah informasi yang tepat, jangan berikan informasi yang orang lain tidak minta, jangan 'ngota', caranya: 1) berikan informasi seinformatif yang dibutuhkan; 2) berikan informasi tidak melebihi yang dibutuhkan.

Di dalam maksim kuantitas, seorang diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relative memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi demikian itu tidak boleh melebihi informasi yang sebenarnya dibutuhkan lawan bicara.

Kedua, maksim kualitas (the maxim of quality): pastikan informasi kita benar, jangan berdusta, jangan menyebarkan berita bohong, jangan mengatakan sesuatu yang kita tidak paham. Caranya: 1) jangan mengatakan suatu yang kita yakini bahwa informasi itu tidak benar; 2) jangan mengatakan suatu yang bukti kebenarannya kurang meyakinkan.

Dengan maksim kualitas, kita diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai fakta sebenarnya di dalam proses komunikasi. Fakta itu harus didukung dan didasarkan pada bukti-bukti yang jelas. Informasi yang 'sensiti harus didukung fakta dan data yang emperis

Ketiga, maksim relevansi (the maxim of relevance): pastikan informasi yang disampaikan ada relevansinya dengan tema yang dibicarakan. Jangan memperlebar informasi yang bisa jadi lawan bicara tidak tertarik. Jangan menghubung hubung informasi yang bisa jadi 'dipaksa' dihubungkan.

Di dalam maksim relevansi, dinyatakan bahwa agar terjalin kerja sama yang baik antara pihak yang berkomunikasi, masing-masing hendaknya dapat memberikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dikomunikasikan.

Keempat, maksim pelaksanaan (the maxim of manner): pastikan infomasi yang disampaikan mudah dimengerti, caranya: 1) hindarilah pernyataan-pernyataan yang samar; 2) hindarilah ambiguitas; 3) usahakan agar ringkas (hindarilah pernyataan-pernyataan yang panjang lebar dan bertele-tele); 4) usahakan agar kita berbicara dengan teratur.

Gunakanlah media sosial untuk menjalin silaturrahmi, dan medsos jangan jauhkan hubungan sosial

*) Penulis adalah Guru MAN Muara Bulian, Kab. Batanghari

 


 

http://jambi.kemenag.go.id
5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama: Integritas, Profesional, Inovasi, Tanggung jawab, dan Keteladanan
Diakses pada: 24 Oktober 2017, 10:56:18 wib | Diproses dalam waktu : 0.0019 detik
Diakses dari ip address: 54.81.6.121
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
Copyright © 2017 Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved