Jambi Selayang Pandang


Jambi Selayang Pandang

Nama Jambi  Munculnya nama Jambi sebagai satu kawasan di sekitar Sungai Batanghari  memiliki latar belakang sejarah dengan berbagai versi. Ada yang  mengatakan bahwa nama Jambi muncul sejak daerah ini dikendalikan oleh  seorang ratu bernama Puteri Selaras Pinang Masak, yaitu semasa  keterikatan dengan Kerajaan Majapahit. Waktu itu bahasa keraton  dipengaruhi bahasa Jawa, di antaranya kata pinang disebut jambe. Sesuai  dengan nama ratunya Pinang Masak, maka kerajaan tersebut dikatakan  Kerajaan Melayu Jambe. Lambat laun rakyat setempat umumnya menyebut  Jambi. Versi tersebut disangkal oleh kenyataan lain, seperti apa yang  ditulis dalam berita Cina oleh Sang Hui Yao. Catatan tersebut  mengemukakan bahwa pada tahun 1082 Kerajaan Jambi masih utuh. Kata Jambi  ini ditulisnya dengan aksara Cina yang bacaannya: /Champei/. Hal ini  menunjukkan bahwa versi pertama, yang mengaitkan dengan nama Puteri  Pinang Masak, agak meragukan dibandingkan dengan versi kedua. Sebab  pendapat versi kedua ini berjarak 300 tahun sebelumnya. Versi ketiga,  kata Jambi ini sebelum ditemukan oleh Orang Kayo Hitam atau sebelum  disebut Tanah Pilih, bernama Kampung Jam, yang berdekatan dengan Kampung  Teladan, yang diperkirakan di sekitar daerah Buluran Kenali sekarang.


Dari  kata Jam inilah akhirnya disebut Jambi. Versi keempat berpedoman pada  buku sejarah De Oudste Geschiedenis van de Archipel bahwa Kerajaan  Melayu Jambi dari abad ke-7 s.d. 13 merupakan bandar atau pelabuhan  dagang yang ramai. Di sini berlabuh kapal-kapal dari berbagai bangsa,  seperti: Portugis, India, Mesir, Cina, Arab, dan Eropa lainnya.  Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago  menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh ke dalam pengaruh  Hindu, seorang puteri Melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama  suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Arab, dan tidak kembali. Pada waktu  lain, seorang putri Melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya  berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani dengan  kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya  hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah  menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab. Kondisi  tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama Jambi bukan tidak mungkin  berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali  ke pelabuhan Melayu ini.


Orang Arab  atau Mesir memberikan julukan kepada rakyat Melayu pada masa itu sebagai  Janbi, ditulis dengan aksara Arab: , yang secara harfiah berarti sisi  atau samping, secara kinayah (figuratif) bermakna tetangga atau sahabat  akrab. Dinamika Jambi Penduduk yang berdiam di wilayah Jambi ini dapat  dikategorikan atas dua golongan: (1) Orang Jambi asli pertama, yaitu  penduduk asli yang bercampur dengan imigran Hindia Belakang dan  keturunan-keturunannya. Orang Melayu tua (porto Melayu) ini hidup 25  abad yang lalu. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Suku Bajau,  Kerinci, dan Batin; (2) Orang Jambi asli kedua, yaitu keturunan penduduk  asli dengan imigran Hindia Belakang yang bercampur dengan orang Jawa di  masa pengaruh Majapahit, orang Minangkabau, dan Palembang. Yang  termasuk kategori (Deutron Melayu) ini adalah Melayu Jambi, Penghulu,  dan Suku Pindah. Pada abad ke-4, masyarakat Jambi asli pertama  mendirikan kerajaan. Adanya kerajaan, tentu dalam masyarakat itu ada  orang yang dirajakan. Pada masa ini raja sangat absolut dan rakyatnya  masih primitif. Pada abad ke-7, di Hilir Sungai Batanghari, berdiri  kerajaan Melayu. Kerajaan Melayu Jambi ini merupakan perkembangan  kerajaan Jambi semenjak kira-kira 300 tahun sebelumnya. Hanya kemudian  mempunyai sebutan khusus Kerajaan Melayu. Kerajaan Melayu Jambi pada  abad ke-7 dikenal luas dalam sejarah dunia. Kerajaan ini memegang  peranan penting pada masa itu, karena kerajaan ini menjadi titik  pertemuan lalu lintas pelayaran. Dari India ke Cina, dari bagian barat  ke Maluku bagian timur, dari Cina ke barat, kapal-kapal layar itu  dipaksa alam melepas sauh di Pelabuhan Melayu Jambi. Di sini mereka  menunggu peredaran musim, arah angin, dan ke mana pelayaran mereka  selanjutnya.


Dengan demikian,  kerajaan Melayu Jambi menjadi pusat perdagangan dan transaksi pedagang  Persia, Arab, India, Mesir, Cina, dan Eropa lainnya. Pada masa ini  kerajaan Melayu Jambi dikenal sebagai penghasil lada, hasil hutan, dan  emas. Pada masa ini pun kerajaan Melayu yang sudah dipengaruhi Hindupada  mulanya animismetelah mendirikan sekolah tinggi yang dikunjungi  orang-orang dari berbagai kerajaan untuk mempelajari agama Budha dan  bahasa Sanskerta. Pada masa kerajaan Melayu, Jambi belum memiliki batas  wilayah yang jelas dan kongkret secara agraris. Batas-batas tersebut  baru berupa konvensi menurut adat dan kekuasaan, yaitu: dari Tanjung  Jabung sampai Durian Takuk Rajo; dari Sialang Belantak Besi ke Bukit  Tambun Tulang. Tanjung Jabung adalah daerah pantai Jambi, termasuk Pulau  Berhala, Pulau Telor, Pulau Laya, dan Pulau Majin sampai ke Tungkal.  Durian Takuk Rajo berada di Setinjau Laut, sedangkan Bukit Tambun Tulang  berada di Singkut. Batas-batas tersebut diakui dan tersimpan di hati  segenap rakyat Jambi, yang harus dipertahankan dari invasi Belanda yang  telah mangkal di daerah tetangganya, seperti Palembang, Padang,  Bengkulu, dan Riau pada masa itu. Pada permulaan abad ke-8 salah seorang  raja Melayu Jambi (Sri Maharaja Srindrawarman) menganut agama Islam.  Namun, antara permulaan abad ke-8 dan permulaan abad ke-12 terjadi masa  vacum dakwah Islam di Jambi. Agama Islam mazhab Syafii baru mulai  berkembang di Jambi, setelah daerah ini takluk di bawah kekuasaan  Samudra Pasai (12851522). Yang memberi corak khusus dan yang menentukan  jalannya perkembangan serta yang nyata-nyata mengubah kebudayaan Melayu  Jambi adalah pengaruh-pengaruh dari agama Islam. Pengaruh ini  menghasilkan ciptaan-ciptaan yang memberi ciri tertentu kepada  kebudayaan Melayu Jambi. Agama Hindu/Budha, yang dalam zaman purba telah  menentukan corak dan disebut kebudayaan Melayu Jambi didesak oleh agama  Islam.


Dalam pembentukan kebudayaan  baru, yang tumbuh dan berkembang adalah kebudayaan pengaruh Islam.  Pengaruh Islam itu pulalah yang memberikan dan menentukan arah baru  serta corak khusus kebudayaan material dan spiritual Melayu Jambi. Dalam  kurun Islam pada abad ke-15 dan 16, pemerintahan kesultaan muncul di  Jambi. Di Kesultanan Jambi pada abad ke-20 dan awal abad ke-21, struktur  pemerintahannya terdiri atas: (1) Kuasa Sultan, (2) Kuasa Patih Dalam.  (3) Kuasa Patih Luar, (4) Kuasa Batin (Jenang), (5) Kuasa Tengganai, dan  (6) Kuasa Dusun (Penghulu). Sesudah proklamasi 17 Agustus 1945, daerah  Jambi merupakan daerah keresidenan, bagian dari Provinsi Sumatera.  Ketika Provinsi Sumatera pecah menjadi Provinsi Sunmatera Utara,  Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan, Keresidenan Jambi yang terdiri  dari Kabupaten Merangin, Kabupaten Batanghari, dan Kotapraja Jambi masuk  Provinsi Sumatera Tengah. Jambi kemudian menjadi daerah Swatantra  Tingkat I, yang terlepas dari Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera  Tengah. Jambi menjadi Provinsi Daerah Tingkat I Jambi melalui badan  Kongres Rakyat Djambi (BKRD) sampai kebijakan otonomi daerah dengan  diberlakukannya Undang-undang nomor 32 tahun 2004, tentang Pemerintahan  Daerah. Provinsi Jambi yang membujur di bagian tengah Sumatera, memiliki  luas wilayah 53.435 Km2; berada antara 00452045 Lintang Selatan dan  10100104055 Bujur Timur. Saat ini Provinsi Jambi terbagi atas sembilan  kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Batanghari, Kabupaten Tanjung  Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Sarolangun,  Kabupaten Merangin, Kabupaten Tebo, Kabupaten Bungo, Kabupaten Kerinci,  Kabupaten Muaro Jambi, dan Kota Jambi. Mayoritas penduduk yang mendiami  provinsi ini memeluk agama Islam (96,14 %), disusul kemudian protestan  (1,85%), Budha (1,21%), Katolik (0,66%), Hindu (0,07%), dan lainnya  (0,07%). Potensi Budaya Provinsi Jambi memiliki potensi kebudayaan yang  cukup banyak dan beraneka ragam, seperti peninggalan sejarah dan  kepurbakalaan, bahasa dan sastra, dan kesenian lainnya. Di Provinsi  Jambi terdapat 123 situs peninggalan sejarah, dengan rincian: Kota Jambi  5 situs, kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi 31 situs, Kabupaten Tebo  dan Bungo sebanyak 16 situs, di Kabupaten Merangin dan Sarolangun 16  situs, Kabupaten Kerinci 49 situs, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur  dan Tanjung Jabung Barat 6 situs. Jambi sebagai salah satu daerah budaya  Nusantara, masyarakatnya dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan  bahasa Melayu, yang dikenal dengan Melayu Jambi.


Pertumbuhan  dan perkembangan bahasa Melayu menunjukkan pula pertumbuhan dan  perkembangan kebudayaan Melayu Jambi. Sastra Melayu Jambi dapat  ditelusuri lewat beberapa tahapan perkembangan, yakni; 1. sastra Melayu  Jambi asli, 2. sastra pengaruh Hindu/Budha, 3. sastra pengaruh  peralihan. 4. sastra pengaruh Islam. Masimg-masing tahapan itu memiliki  bentuk dan genre sendiri-sendiri, yang memperkaya khazanah kebudayaan  Melayu di Nusantara. Di bidang kesenian, berbagai cabang seni dimiliki  pula oleh Provinsi Jambi. Seni musik, seni tari, seni rupa, seni lakon,  dan seni krya tradisional lainnya memperlihatkan pertumbuhan dan  perkembangan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi inspirasi, bahan,  dan konvensi dalam penciptaan kesenian modern di Jambi khususnya dan  Nusantara umumnya. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya berbagai cabang  kesenian Melayu Jambi tersebut mengalami akulturasi dengan unsur-unsur  kesenian bangsa lain atau suku bangsa lain di Nusantara. Dengan demikian  kesenian Melayu Jambi ada yang orisinal atau tradisional dan ada pula  yang bersifat akulturatif, kombinatif, kolaboratif atau modern. Adat  Melayu Jambi Salah satu ranah kebudayaan Melayu Jambi yang tak lapuk  karena hujan dan tak lekang karena panas adalah adat. Adat, baik adat  istiadat, adat yang teradat, adat yang diadatkan, dan adat yang  sebenarnya adat merupakan pedoman perilaku keseharian masyarakat Melayu  Jambi. Untuk menentukan salah atau benar sesuatu perbuatan diteliti  (disimak) dari ungkapan-ungkapan dalam pepatah dan petitih serta seloko  adat yang ada kaitannya dengan perbuatan atau kejadian tersebut.


Contoh  ungkapan tersebut, antara lain: Terpijak benang arang, hitam tapak.  Tersuruk di gunung kapur, putih tengkuk. Sia-sia negeri alah Tateko  hutang tumbuh. Pinjam memulangkan Sumbing menitik Hilang mengganti Bagi  masyarakat Melayu Jambi, adat merupakan elemen perekat dalam sendi  kemasyarakatannya yang memungkinkan masyarakat tumbuh dan berkembang  secara serasi dalam suasana kekeluargaan yang harmonis dan dinamis. Hal  ini dimungkinkan karena dalam sistem adat memuat komponen hukum yang  bersifat duniawi dan ukhrawi, seperti tertuang dalam ungkapan: Adat  bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. (dari berbagai sumber)

 

 


 

http://jambi.kemenag.go.id
5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama: Integritas, Profesional, Inovasi, Tanggung jawab, dan Keteladanan
Diakses pada: 23 Agustus 2017, 22:42:09 wib | Diproses dalam waktu : 0.0009 detik
Diakses dari ip address: 54.81.46.194
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
Copyright © 2017 Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved