Diposting Pada: Kamis, 31 Agustus 2017
Khutbah Idul Adha 2017, Aktualisasi Esensi Ibadah Haji dan Qurban Dalam Kehidupan


Khutbah Idul Adha 2017, Aktualisasi Esensi Ibadah Haji dan Qurban Dalam KehidupanPenulis : Mushanef, S.HI.MH.
Staf Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sarolangun

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِىْ جَعَلَ اْلكَعْبَةَ لِلنَّاسِ قِيَامًا. وَجَعَلَ اْلبَيْتَ اْلحَرَامَ لِلنَّاسِ مَثَبَتًا وَاَمْنًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا ُمحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمُ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَعَلىٰ كُلِّ مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى. أَمَّابَعْدُ : فَيآاَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. وَللهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Idul Adha Yang Dirahmati Allah

Alhamdulillah, pagi ini kita dapat berkumpul menikmati indahnya matahari, sejuknya hawa pagi sembari mengumandangkan takbir mengagungkan Ilahi Rabbi, dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci.

Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri, mengarungi kehidupan seperti yang tercermin dalam keta’atan dan ketabahan Nabi Allah Ibrahim as menjalani cobaan dari Allah Yang Maha Tinggi.

Jamaah Idul Adha Rohimakumullah !

Hari ini di Mina, 10 Dzulhijjah, para jamaah haji harus berjuang keras menempuh jalan hingga beberapa kilometer, melewati sejumlah terowongan yang penuh sesak oleh jamaah lain, dan harus berdesak-desakan dengan dua juta lebih jamaah dari berbagai bangsa. Menjaga kepala agar tidak tertimpa batu-batu jamarat yang beterbangan di atas kepala, menjaga kaki agar tidak terinjak oleh jutaan kaki yang terus bergerak, menjaga pakaian yang hanya boleh dililit kebadan agar tidak terlepas, sambil menggenggam 7 butir batu, hanya dengan satu maksud, melontar jumrah aqobah.

Di Tanah Suci Mekkah umat Islam berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji, mereka berdatangan dari segenap penjuru dunia untuk memenuhi panggilan Ilahi. Tidak semua mereka yang datang dari golongan kaya harta, bahkan banyak di antara mereka adalah rakyat biasa, tidak menunggu-nunggu sampai kaya atau berpangkat tinggi, maka untuk mencapai cita-cita hidup itu mereka bekerja keras, berhemat dan meyimpan sedikit demi sedikit, dan untuk cita-cita mulia itu pula mereka dengan rela hati harus menempuh segala macam kesulitan, rintangan dan halangan.

Ibadah Haji adalah ibadah tertua dalam sejarah umat manusia, dan ka'bah adalah bangunan suci pertama dimuka bumi ini.

Sesungguhnya rumah Allah SWT yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi penunjuk bagi semua manusia (QS. Ali Imran : 96)

Dalam satu riwayat disebutkan, ketika Adam diusir dari surga ke bumi, ada satu hal yang paling ia sedihkan, yaitu Adam tidak bisa lagi mengikuti ibadah para malaikat bertawaf mengeliingi Arasy, yakni singgasana Allah SWT, kemudian Adam dihibur dengan dibangunnya ka'bah sebagai Batullah, miniatur atau tiruan'Arasy di bumi.

Lalu Adam diperintahkan Allah SWT bertawaf mengelilingi Ka'bah. Jadi thawaf adalah cara ibadah menirukan malaikat mengelilingi Arasy, dan ternyata seluruh makhluk makrokosmos di jagat raya juga melakukan tawaf. Misalnya bulan dan bumi bertawaf mengelilingi matahari, dan matahari beserta seluruh familinya juga bertawaf mengelilingi pusat galaksi Bimasakti. Mereka semua dengan setia menyembah kepada Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya :

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah SWT bersujud apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari pada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah SWT maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah SWT berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Hajj : 18).

Jamaah Idul Adha Rohimakumullah !

Menunaikan ibadah haji adalah memenuhi panggilan ilahi. Hanya orang yang memiliki keimanan mendalam dan keinginan kuat yang akan menyambut panggilan Ilahi itu. Walaupun jauh dan berat, tidak mudah dan tidak murah, namun jutaan kaum beriman ikhlas menunaikan ibadah haji ke tanah suci, bahkan dengan harus menunggu belasan tahun untuk menunggu giliran pergi. Ini adalah pertanda keimanan hakiki dan keislaman sejati.

Ibadah haji adalah ibadah yang luar biasa dan istimewa, hal ini disebabkan beberapa hal :

Pertama, Ibadah haji adalah ibadah yang paling jauh, tidak ada ibadah yang Allah perintahkan kepada umat Islam yang harus dikerjakan jauh dari tempat tinggal kita kecuali ibadah haji. Sholat cukup dikerjakan di Masjid, puasa bisa dikerjakan di rumah, zakat bila harta kita sudah sampai nisab, tapi ibadah haji harus dilaksanakan di Kota Suci Mekah. Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya berapa jarak antara Indonesia ke Arab Saudi? Jarak Indonesia ke Arab Saudi yaitu 8038.60 km, jarak tersebut ditempuh selama 9 jam dengan menggunakan pesawat terbang.

Kedua, Ibadah haji adalah ibadah yang paling besar biayanya, untuk musim haji tahun 2017 ini ongkos naik haji (ONH) ditetapkan oleh pemerintah sebesar 34 juta rupiah. Sementara bagi yang ingin mendaftar haji harus menyetor 25 juta per orang guna mendapatkan nomor porsi keberangkatan dan itu pun harus menunggu selama lebih kurang 17 tahun ke depan.

Ketiga, Ibadah haji adalah ibadah yang paling beresiko. Betapa tidak, perjalanan menuju negeri orang, terbang selama 9 jam kemudian berdesak-desakan dengan jutaan jamaah haji dari berbagai belahan dunia, membuat ibadah haji menjadi perjalanan yang penuh risiko. Oleh karena itu, berangkat haji nilainya sama dengan perjalan fisabiilillah.

Dari Aisyah ummul mukminin radhiyallahuanha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad? Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur, jawab Nabi SAW. (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat, Ibadah haji adalah ibadah yang paling besar pula pahalanya. Allah SWT memberikan jaminan Surga bagi siapa saja yang mampu meraih haji yang mabrur. Sebagaimana terlukis dalam sabda Rasulullah SAW :

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Tiada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga”

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر ولله الحمد
Jamaah Idul Adha Rohimakumullah !

Hari raya Idul Adha ditandai dengan peristiwa kemanusian dalam sejarah kehidupan manusia yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, yaitu pengorbanan yang bermuara pada iman dan taqwa kepada Ilahi Rabbi, Allah semesta alam.

Dengarlah dialog antara kedua anak manusia itu pada detik-detik terakhir menjelaskan mereka tiba pada kesepakatan besar itu;

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaaffat: 102).

Tidakkah kita melihat betapa lbrahim memanggil anaknya dengan sebutan Bunayya; anakku tersayang? Tidakkah engkau melihat betapa Ibrahim bertanya kepada anaknya dengan hati- hati; Cobalah pertimbangkan! Bagaimanakah pendapatmu tentang itu? Tidakkah kita merasakan betapa Ibrahim menyembunyikan pergolakan besar yang berkecamuk di relung hatinya? Tapi lihatlah, betapa agungnya sang anak masih sanggup memanggil ayahnya dengan panggilan sayang; Wahal ayahku tersayang! Tapi alangkah agungnya sang anak ketika ia menjawab dengan tenang; Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Dan betapa tegarnya sang anak ketika ia mengatakan; “Niscaya kan kau dapati aku, Insya Allah, sebagai orang-orang yang sabar.

ltulah momentum pengorbanan paling akbar dalam sejarah manusia. Dan itulah momentum kebesaran paling agung dalam sejarah manusia.

Dr. Ali Syariati dalam bukunya Al-Hajj mengatakan bahwa Ismail adalah sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Ismail kita?

Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Ismail kita yang karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Ismail kita itulah yang kerap membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan perintah Allah. Kecintaan kepada Ismail kita yang berlebihan juga akan membuat kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas kemanusiaan.

Jamaah Idul Adha Rohimakumullah !

Bagi orang yang berkurban hendaknya menghadirkan niat di hatinya, bahwa ibadah kurban yang ia lakukan adalah perwujudan dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjauhkan diri dari bisikan-bisikan ingin dipuji sebagai dermawan atau sebagai orang yang mampu karena membeli hewan kurban yang termahal, lalu dikenal, naudzubillah.

Dalam sebuah hadist Nabi SAW pernah berkisah kepada para sahabat,

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat. Mereka (para sahabat) bertanya, Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, Berkorbanlah. Ia pun menjawab, Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan. Mereka mengatakan, Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat. Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, Berkorbanlah. Ia menjawab, Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Azza wa Jalla. Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.

Dari kisah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, kita harus mengikhlaskan ibadah kita semata-mata karena dan untuk Allah SWT, jangan kita niatkan ibadah kurban kita kepada selain-Nya.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (QS. Al-Hajj : 37).

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada keengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

Ditengah suatu masyarakat, ketika orang kaya hidup mewah diatas penderitaan orang-orang miskin, ketika anak-anak yatim dan mereka yang papa merintih dalam belenggu nasibnya, ketika para penguasa menggunakan kekuasaannya untuk kesejahteraan dirinya bukan untuk memberi kesejahteraan kepada rakyat miskin, ketika para penegak hukum memihak orang kaya dari pada kebenaran. Dalam kondisi inilah maka esensi perayaan Idul Qurban yang sesungguhnya perlu kita aktualisasikan dengan pembelaan kepada mereka yang kurang mampu secara ekonomi, pembelaan terhadap mereka yang mendapat perlakuan tidak adil secara hukum, pembelaan terhadap mereka yang tidak mendapatkan haknya.

Marilah makna dan nilai Idul Adha tidak sebatas kita maknai dengan ritual berkorban kambing, kerbau, sapi, 1 tahun sekali, tetapi hendaknya memaknai bahwa semangat untuk memberi dan peduli kepada sesama harus selalu ada dalam jiwa umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah Idul Adha Rohimakumullah !

Demikianlah uraian khutbah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga kita yang berada di tempat ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Tanah Suci. Begitu pula untuk saudara-saudara kita yang saat ini tengah berjuang menunaikan ibadah haji, semoga selalu diberikan kesehatan, ketabahan, dan keselamatan. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. اِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْه اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua
Idul Adha 2017

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
الله أكبر كبيراً و الحمد لله كثيراً وسبحان الله بكرةً وأصيلاً لآ اله الا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله عَلىٰ اِحْساَنِهِ، وَ الشُّكْرُ لَهُ عَلىٰ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِناَنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ الِٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ ُمحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الداَّعىِ اِلىٰ رِضْواَنِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَاَصْحاَبِهِ وَ سَلِّمْ تَسْلِيْماً كَثِيْراً .

أَماَّ بَعْدُ: فَيآَ اَيُّهاَ الناَّسُ اتَّقُواْ اللهَ فِيْماَ اَمَرَ وَانْتَهُواْ فِيْماَ نَهىٰ وَزَجَرَ، وَاعْلَمُواْ أَنَ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنىّٰ بِمَلاَئِكَتِهِ، وَقاَلَ تَعَالىٰ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبيِّ، يٰآاَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيْماً. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ سَيِّدِناَ ُمحَمَّدٍ وَعَلىٰ اَنْبِيآَئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلاَئِكَتِكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَآءِ الرَّشِدِيْنَ اْلمُهْدِيِّـيْنَ اَبىِ بَكْرٍوَعُمَرَوَعُثْماَنَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ بَقِيَّةِالصَّحاَبَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتاَبِعِى التاَّبِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْساَنٍ اِلىٰ يَوْمِ الدِّيْنَ وَارْضَ عَناَّمَعَهُمْ بِرَ ْحمَتِكَ يٰآاَرْحَمَ الرَّاِحمِيْنَ .

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِناَتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ الاَحْيآَءِ مِنْهُمْ وَ اْلاَمْواَتِ، اَللّٰهُمَّ اَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَ أَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِباَدِكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ اَعْدآَءَ الدِّيْنَ وَاَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَ اْلمُبْتَدِعَةَ وَ اْلمُشْرِكِيْنَ، وَاعْلِ كَلِمَتَكَ اِلىٰ يَوْمِ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرً يَا عَالِمَ فِى صُدُوْرِ اَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلىَ النُّوْرِ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ اَنْفُسَناَ وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْلَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُونَنَّ مِنَ اْلخاَسِرِيْنَ، رَبَّناَ اٰتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ اْلآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ الناَّرِ.

عِباَدَ اللهِ. اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَ اْلاِحْساَنِ وَ اِيْتآَءِ ذِى اْلقُرْبىٰ وَ يَنْهىٰ عَنِ اْلفَخْشآَءِ وَاْلمُنْكَرِ وَ اْلبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَ اللهُ يَعْلَمُ ماَ تَصْنَعُوْنَ.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ اْلحَمْدُ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


 


25x
Dibaca

BERITA LAINNYA:
Amarah Sahabat Karib di MTs Negeri Terusan
Amarah Sahabat Karib di MTs Negeri Terusan
UAM Hari Pertama di MTsN Muara Bulian Lancar
UAM Hari Pertama di MTsN Muara Bulian Lancar
Dari Fasi X Tingkat Nasional, Tanjab Timur utus 13 Orang Peserta
Dari Fasi X Tingkat Nasional, Tanjab Timur utus 13 Orang Peserta
Wakil Gubernur Jambi Lepas JCH Kloter 22
Wakil Gubernur Jambi Lepas JCH Kloter 22

 

http://jambi.kemenag.go.id
5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama: Integritas, Profesional, Inovasi, Tanggung jawab, dan Keteladanan
Diakses pada: 17 Oktober 2018, 04:16:31 wib | Diproses dalam waktu : 0.0449 detik
Diakses dari ip address: 54.196.26.1
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
Copyright © 2017 Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved