berita Terkini
  • Senin, 30 Maret 2015, 10:54 Wapres Resmikan Jembatan Pedestrian dan Menara Gentala Arasy Ka.Kanwil Pimpin Do’a Jambi (Humas) –Wakil Presiden, H.Jusuf Kalla, Sabtu (28/3) meresmikan ikon Kota Jambi Gentala Arasy. Ikon tersebut berupa jembatan melengkung yang membelah Sungai Batanghari  yang dilengkapi dengan Menara Gentala Arasy setinggi 80 meter. Jembatan pedestrian  atau jembatan khusus penyeberangan orang ini membentang di atas Sungai Batanghari dengan panjang 503 meter. Gubernur, H.Hasan Basri Agus dalam laporannya dihadapan Wapres mengungkapkan, pembangun...
  • Senin, 30 Maret 2015, 08:45 Ka.Kanwil Ikuti Rapat Bahas EHA Bersama SKPD Provinsi Jambi (Humas) –Pelaksanaan musim haji pada tahun ini tidak lama lagi akan dilaksanakan, yang menjadi bagian terpenting saat ini adalah persiapan Provinsi Jambi dalam Embarkasi Haji Antara, maklum ini merupakan yang perdana. Untuk itu Pemerintah Provinsi Jambi terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak salah satunya rapat bersama Kementerian Agama, Angkasa Pura dan pihak terkait.Rapat yang berlangsung di Kantor Gubernur belum lama ini, dipimpin langsung Sekda, H.Ridham Priskap. Sekda...
Link Banner
Renungan
  • CINTA TERLARANG Fitrah seorang manusia akan selalu bersentuhan dengan sebuah kata cinta, sementara kecintaan menghasilkan buah kerinduan. Orang yang sedang jatuh cinta akan rindu kepada orang yang dicintainya. Gejolak cinta yang berbahaya adalah jika telah menggerogoti fitrah kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati. Mungkin kita pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau kisah Qais yang tergila-gila kepada Laila, atau seorang muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, atau kasus pernikahan sesama jenis, baik itu pernikahan sesama laki-laki (gay) atau pernikahan sesama perempuan (lesbi). Contoh-contoh tersebut adalah cinta yang terlarang dalam Islam. a. Homoseksual atau Gay atau Liwath Liwath (homoseksual atau gay) adalah sebuah hubungan khusus (sodomi) yang dilakukan antara lelaki dan lelaki. Praktik liwath sangat dibenci dalam syariat karena tidak ditemukan praktik liwath dilakukan binatang dan menyalahi fitrah manusia. Manusia yang melakukan praktik liwath lebih hina dari seekor binatang dan Perbuatan liwath adalah dosa yang sangat besar. Allah berfirman:"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu." (Q.S. Al-Ankabut: 28) Hukuman bagi pelaku liwath adalah dihukum mati, baik sudah menikah maupun belum menikah. Dalilnya adalah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:"Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (homoseksual) sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut." (HR. Abu Dawud no. 4462 dan At Tirmidzi no. 1456) b. Lesbi atau Sihaq Lesbi (sihaq) adalah sebuah hubungan khusus yang dilakukan antara wanita dan wanita. Praktik lesbi juga sangat dibenci dalam syariat. Ibnu Hajar rahimahullah menggolongkan perbuatan lesbi ini sebagai bentuk penyimpangan fitrah manusia, dan pelakunya termasuk dalam kategori pelaku dosa-dosa besar yang mewajibkan baginya untuk segera bertaubat kepada Allah. Hukuman bagi pelaku lesbi adalah ta'zir, dimana pemerintah berhak menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini. Apabila hukuman ta'zir tersebut tidak terlaksana di dunia, maka hukuman tersebut akan dilaksanakan di akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman :"Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras." (Q.S. Ar-Ra'd : 34). Para pelaku Liwath (gay) dan Sihaq (lesbi), sebenarnya bukan ditakdirkan suka kepada sesama jenis, karena fitrah seksual manusia pada dasarnya bukan hanya membutuhkan pemenuhan, tetapi pemenuhan tersebut harus benar dan halal. Bagi laki-laki, pemenuhan yang benar tentu bukan dengan laki-laki tetapi dengan seorang wanita. Demikian sebaliknya, wanita juga bukan dengan wanita tetapi dengan laki-laki. Inilah orientasi seksual yang benar. Jika tidak, maka mereka dianggap melakukan penyimpangan seksual dan memiliki penyakit kejiwaan. Dan pemenuhan kebutuhan seksual laki-laki dengan wanita saja tidak cukup, harus dilakukan dengan cara yang halal, yaitu melalui pernikahan dan bukan dengan jalan perzinahan. (Wallaahu a'lam)
  • Galeri Video
    FAQ
    Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 2.011920 detik
    Diakses dari alamat : 10.1.7.64
    Jumlah pengunjung: 3545427
    Lihat versi mobile
    Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
    © Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.